pendaftaran siswa baru

PEMBELAJARAN EFEKTIF SINERGI AYAH DAN ANAK (E=SA2)

Posted on 7 Oktober 2020 - 09:59 WIB

PEMBELAJARAN EFEKTIF SINERGI AYAH DAN ANAK (E=SA<sup>2</sup>)

PEMBELAJARAN EFEKTIF SINERGI AYAH DAN ANAK (E=SA2)

Oleh: Aldi Yudawan, S.Pd.

 

 

Pandemi Covid-19 memaksa penduduk dunia untuk merubah cara menjalani kehidupan. Tak terkecuali bidang pendidikan. Semua proses pembelajaran yang tadinya dilakukan langsung di dalam kelas secara tatap muka, harus beralih menjadi menatap layar kaca.

https

 

Kebijakan Strategis

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) bertindak cepat. Awal Maret saat diumumkan kasus pertama Covid-19 di tanah air, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menginstruksikan belajar di sekolah dialihkan ke rumah. Sekolah ditutup. Semua hiruk-pikuk keramaian dalam kelas menjadi hening dalam kesunyian.

Proses belajar di rumah yang dimaksudkan Mas Mentri-sapaan Nadiem-bukan tanpa aturan. Ketentuannya diatur oleh Kemdikbud dimulai dengan pengenalan istilah Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). PJJ dilaksanakan dengan tujuan memberi pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa. Semua proses di dalamnya dilakukan tanpa membebani siswa dan guru untuk menuntaskan seluruh capaian kurikulum. Hal itu berlaku untuk kenaikan kelas maupun kelulusan.

PJJ ditujukan pada fokus melakukan pendidikan kecakapan hidup. Terutama kecakapan hidup mengenai pandemi. Aktivitas di dalamnya bisa berbagai bentuk, sesuai minat dan kondisi masing-masing. Aktivitas ini harus berpedoman pada protokol kesehatan, termasuk mempertimbangkan akses dan fasilitas yang tersedia. Pada akhir pembelajaran, aktivitas PJJ menghasilkan produk belajar dari rumah yang diberi umpan balik oleh guru. Umpan balik ini bersifat kualitatif sehingga bermanfaat bagi guru dan siswa tanpa terpaku pada skor atau nilai.

Semua bentuk ujian ditinjau ulang dan diberi perubahan. Bahkan Ujian Nasional (UN) tahun 2020 dibatalkan untuk semua jenjang. Uji Kompetensi Keahlian (UKK) bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) juga dibatalkan. Mungkin para siswa langsung loncat-loncat kegirangan mengetahuinya. Apalagi efek dominonya adalah UN tidak menjadi syarat kelulusan atau seleksi masuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Ujian Sekolah (US) masih tetap dilaksanakan, akan tetapi dengan perubahan ketentuan. Kalau biasanya tes dilaksanakan dengan berkumpul, hal tersebut kemudian dilarang. Bentuk ujian dibolehkan dalam portofolio nilai rapor dan presentasi yang diperoleh sebelumnya. Selain itu, penilaian juga bisa diperoleh dari tes atau penugasan dan/atau bentuk asesmen jarak jauh yang disepakati murid dan guru.

US juga tidak perlu mengukur ketuntasan capaian kurikulum secara menyeluruh yang biasa dilakukan. Cukup dilakukan dengan mendorong aktivitas belajar bermakna seperti misalnya membuat pembelajaran sederhana. Bagi sekolah yang sudah melaksanakan US, nilai yang sudah masuk bisa dijadikan untuk menentukan kelulusan siswa. Bagi sekolah yang belum, penentuan kelulusan dari US diambil dari nilai lima semester terakhir. Sama seperti kelulusan Sekolah Dasar (SD) atau sederajat.

Untuk kenaikan kelas, ujian Akhir Semester (UAS) dirubah bentuknya dari mengerjakan tes menjadi portofolio nilai rapor dan prestasi yang diperoleh sebelumnya. Tes dan penugasan yang telah dilakukan sebelumnya, dimasukan juga sebagai penambah nilai. Sama seperti UN dan US, UAS didorong untuk melakukan aktivitas yang bermakna. Tidak perlu mengukur capaian kurikulum secara menyeluruh.

Bagi murid yang akan melanjutkan ke jejang berikutnya, tetap wajib mengikuti proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Namun pelaksanaan PPDB tahun pelajaran baru harus merujuk pada protokol kesehatan. Khusus PPDB jalur prestasi, dilaksanakan berdasarkan akumulasi nilai rapor selama lima semester terakhir dan/atau prestasi akademik maupun non akademik di luar rapor sekolah.

Soal Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), boleh digunakan untuk keperluan pengadaan barang sesuai kebutuhan sekolah di masa pandemi. Contohnya seperti alat kebersihan, pembersih tangan, disinfektan, dan masker. Belakangan, dana ini juga dibelikan pulsa kuota internet unuk menunjang proses pembelajaran.  

Semua kebijakan yang diambil sangat strategis dan harus cepat dilaksanakan. Mengingat kasus Covid-19 sudah ditemukan sejak Maret dan diumumkan menyerang manusia yang rentan. Usia sekolah termasuk kategori manusia yang dimaksud. Dengan demikian, tepat bahwa proses pembelajaran harus dialihkan dan dirubah caranya.

 

Tantangan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)

Dari kebijakan strategis yang dikeluarkan Kemdikbud mengenai PJJ, tidak serta merta bisa diimplementasikan menyeluruh di lapangan. Terdapat tantangan di kalangan pihak-pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran. Guru harus merubah cara pengajaran. Siswa harus merubah cara belajar. Sedangkan orang tua harus merubah cara memandang semua proses belajar.

Bagi guru, tantangan yang umum terjadi adalah beradaptasi dengan penggunaan teknologi. Rata-rata guru masih terbiasa melakukan pengajaran dengan metode, model, dan media pembelajaran tradisional. Mekanismenya masuk kelas, menjelaskan materi, meminta siswa mengerjakan soal, menilai, dan selesai. Guru masih perlu belajar untuk menggunakan teknologi yang mungkin di luar kemampuan yang dulu dipelajarinya.

Kalau dulu, dalam pengajaran belum mengenal ragam aplikasi seperti sekarang. Kalau sekarang, pengajaran bisa menggunakan beragam aplikasi meskipun tidak saling bertemu. Pertemuan kelas bisa dilakukan melalui tatap muka lewat video (teleconference), tugas bisa diberikan melalui grup di aplikasi tertentu. Syaratnya, asalkan terhubung dengan internet. Jika tidak, semua itu tetap tidak bisa berfungsi dengan baik.

Bagi siswa, tantangan yang paling mengemuka adalah fasilitas dan akses jaringan internet. PJJ mensyaratkan penggunaan teknologi level tinggi (high level) dengan alat canggih yang serba sentuh (high touch). Bagi siswa yang punya fasilitas dan akses internet tentu tidak ada masalah yang berarti. Namun bagi yang hanya memiliki salah satu bahkan tidak satu pun dari keduanya, itu menjadi masalah besar.

Untuk fasilitas, rata-rata murid minimal punya gawai. Bagi murid yang tidak punya gawai, tantangan bagi gurunya agar tetap bisa mendidiknya selama PJJ. Mereka yang memiliki gawai kebanyakan masih belum bisa mengoperasikan dengan baik. Yang lain, punya gawai tetapi menyatu pemekaiannya dengan Ayah atau Ibunya. Kalau milik Ayah, gawai itu biasanya dibawa kerja. Akibatnya sang anak tidak belajar di waktu yang sama dengan teman-temannya. Jika ada tugas, anak tersebut baru bisa mengecek, mengerjakan, lalu untuk mengirimnya saat ayahnya pulang. Kalaupun itu milik ibunya, biasanya terkendala kuota dan sinyal.

Di sudut lain, banyak potret anak di pelosok negeri harus berjuang demi mendapatkan sinyal. Cara mereka beragam, mulai dari berjalan hingga beberapa kilometer ke kantor desa atau memanjat pohon. Ada juga yang sengaja mengerjakan tugas di pinggir jalan raya karena hanya di tempat itu sinyalnya bagus. Ada lagi yang berlari ke hutan dan menaiki bukit. Itu semata untuk belajar melalui teknologi yang memerlukan sinyal.

Ragam cara belajar saat pendemi seperti ini “terpaksa” dilakukan agar anak-anak tetap memeroleh pendidikan. Pendidikan tetap harus berlangsung karena merupakan hak semua warga negara. Banyak orang tua mengeluh bahwa jika anak dibiarkan libur tanpa mendapat tugas dari gurunya, maka waktunya hanya dihabiskan untuk main. Sudah mendapatkan tugas saja biasanya masih asyik bermain, apalagi jika tidak ada tugas. Guru-guru juga pada akhirnya harus menjawab tantangan ini, agar proses belajar tetap belangsung dengan bermakna.

 

Merubah Cara Belajar Lama

Berbagai tantangan dalam PJJ yang sudah dipaparkan, sangat disayangkan apabila pada akhirnya mengerucut kembali kepada cara belajar lama. Cara belajar lama itu berpola guru menjelaskan, murid mencatat. Guru memberi soal, murid mengerjakan. Guru memberi pelajaran, murid menghafal pelajaran. Itu yang dialami oleh generasi terdahulu selama berpuluh tahun sehingga membentuk budaya “pembelajaran yang benar”.

Generasi terdahulu memang memiliki cara belajar sesuai dengan zamannya. Pada zaman itu, para murid berangkat ke sekolah dengan membawa papan kecil bernama sabak. Sabak berfungsi sebagai alat untuk menulis berbagai materi pelajaran, termasuk soal yang diberikan oleh guru. Dengan kata lain, sabak berfungsi sebagai buku. Berbeda dengan buku, sabak hanya punya satu halaman sehingga saat pelajaran berganti, maka pelajaran sebelumnya harus dihafal karena akan dihapus dari sabak. Tak heran bahwa generasi itu menjadi para penghafal karena dibentuk oleh kebiasaan menghafal yang menjadi budaya.

Murid-murid generasi sekarang memiliki ciri-ciri berbeda sehingga mempengaruhi cara belajarnya. Menurut Setiawan dkk (2018) ada empat ciri anak zaman ini yang membedakannya dengan generasi terdahulu. Pertama, generasi sekarang bukan sakadar mengejar sesuatu, tapi lebih mengelola diri. Bandingkan dengan generasi terdahulu yang misalnya jika melihat orang lain memiliki sesuatu, mereka juga mewajibkan memiliki apa yang dimiliki oleh orang lain tersebut.

Bagi generasi terdahulu, kepemilikan adalah simbol sosial yang menentukan kedudukan dalam struktur sosial. Semakin banyak kepemilikan, semakin terhormat orang tersebut. Berbeda dengan generasi sekarang, mereka lebih fokus dalam kemerdekaan mengelola diri dibanding kepemilikan. Misalnya mereka memang butuh kendaraan, tetapi mereka lebih memilih alternatif transportasi yang leluasa. Mereka butuh jabatan, tapi mereka tidak mau dikekang.

Kedua, generasi sekarang bukan menjaga kemapanan tapi lebih peka terhadap perubahan. Generasi terdahulu seperti kakek dan nenek kita terbiasa mencapai sesuatu kehidupan yang layak dengan cara berjuang. Perjuangan itu memerlukan pengorbanan yang luar biasa. Tak heran jika mereka sudah mencapai kehidupan yang layak atau berkualitas, mereka sangat merasa aman. Di posisi aman itulah generasi terdahulu cenderung ingin bertahan. Hal-hal baru cenderung dianggap sebagai ancaman terhadap status aman mereka.

Berbeda dengan generasi sekarang yang sudah mulai hidup di masa yang sejahtera. Masa yang tidak memerlukan perjuangan seperti dulu, sehingga kehidupan generasi sekarang relatif sudah aman. Hal ini mengakibatkan perubahan yang terjadi tidak dimaknai sebagai ancaman, melainkan sebagai tantangan. Mereka jadi terbiasa dengan tantangan dan terdorong untuk menemukan tantangan-tangan yang baru.

Ketiga, generasi sekarang bukan terpaku pada satu hal, melainkan mudah mengalihkan fokus. Untuk menjelaskan ini, ada sebuah komparasi kehidupan terdahulu dan sekarang. Dulu sebelum maraknya televisi, masyarakat hanya menggunakan radio sebagai hiburan. Selepas itu, tidak ada media lain. Hal ini membuat masyarakat terdahulu fokus hanya pada satu hal dan menyimak itu hingga selesai. Akibatnya hal yang sedang dilakukan dibarengi dengan daya konsesntrasi yang tinggi, fokusnya maksimal.

Di lain sisi, generasi sekarang sudah hidup dengan berbagai media sejak kecil. Bukan hanya radio, televisi sudah berwarna dan banyak salurannya dari dalam maupun luar negeri. Selain itu, ada laptop, tablet, dan gawai yang terhubung dengan internet. Dengan demikian, tidak heran bila generasi sekarang bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Misalnya, sambal belajar mereka bisa sambal membuka akun satu media sosialnya, lalu beralih ke akun media sosial dpada aplikasi yang lain. Bahkan sambal belajar mereka bisa sambal membuat video di aplikasi tertentu. Bila mereka sudah menganggap belajar tidak menarik dan menantang, maka mereka mudah mengalihkan fokus kepada tantangan yang lain.

Keempat, generasi sekarang bukan hanya butuh teman bicara, tapi teman bicara yang bisa diajak bicara kapan saja. Generasi terdahulu mempunyai cara untuk mencurahkan rasa di hati dengan menulis catatan harian atau memilih teman yang cocok untuk diajak bicara. Itu pun dipilih waktu dan tempat yang tepat untuk membicarakan hal itu. Dengan mencurahkan hati lewat tulisan atau mengatakannya kepada eman yang cocok di waktu dan tempat yang tepat, generasi terdahulu merasa sangat nyaman. Sangat berbeda dengan generasi sekarang.

Bagi generasi sekarang, menulis catatan harian di buku atau mencurahkan isi hati di waktu dan tempat yang tepat sepertinya sudah tidak laku. Mereka lebih senang menuliskan pengalaman dan mencurahkan isi hatinya di laman media sosial yang mereka miliki. Berbeda dengan catatan harian di buku atau teman mencurahkan isi hati di waktu dan tempat yang tepat, di laman media sosial siapa saja bisa mengetahui, membaca, bahkan langsung mengomentarinya. Generasi sekarang bisa langsung berkomunikasi dengan teman bicaranya kapan saja tanpa harus mengenalinya lebih dalam.

Berdasarkan ciri-ciri generasi sekarang yang sangat berbeda dengan generasi terdahulu, pnting kiranya merumuskan kembali cara belajar yang tepat bagi mereka. Kalau yang dipakai masih pola lama, maka kemungkinan generasi sekarang tidak akan berkembang. Di negara lain seperti Finlandia, mereka terus menyesuaikan cara belajarnya dengan generasi yang menjadi subjek belajar itu sendiri. Masa di negara kita generasi baru harus sama diajarai dengan cara terdahulu?

 

E=SA2 Bermuatan Nilai Pancasila

Bicara cara belajar yang baru, akan tambah menarik sambil menyikapi tantangan belajar saat pandemi dari sudut pandang yang lain. Dari sekian banyak tantangan yang harus dihadapi dalam belajar, kita selalu punya pilihan untuk menjalani, berjuang, dan berhasil untuk melewatinya.

Kondisi yang sekarang ada, memunculkan berbagai cara untuk “bertahan” di masa pandemi. Munculah istilah Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) di mana kita mau tidak mau harus menjalani kehidupan dengan cara yang mungkin berbeda dalam beberapa hal dari sebelumnya. Termasuk pada proses pendidikan dalam keluarga. Biasanya jika di rumah, Ibu yang mengambilalih untuk membantu anak-anak belajar. Saat pandemi, nampaknya bukan hanya Ibu yang berperan penuh, Ayah juga bisa berperan membantu anak dalam proses belajar.

Dalam membantu proses belajar, Mc Adoo (1993) dalam tulisan berjudul Understanding Father: Human Services Perspectives in Theory and Practice”, menyebutkan bahwa Ayah memiliki setidaknya lima peranan penting dalam keluarga, yaitu: 1) sebagai provider, Ayah berperan dalam menghasilkan fasilitas kebutuhan keluarga; 2) protector, Ayah menjadi seorang pelindung bagi keluarga; 3) decision maker, Ayah berperan sebagai pengambil keputusan dalam keluarga; 4) child specializer and educator, Ayah bertugas mendidik dan menjadikan anak sebagai generasi yang memiliki kepekaan social; dan 5) nurture mother, Ayah berperan sebagai pendamping Ibu dalam mengasuh anak.

Dari lima peran tersebut, poin 1-3 sudah bisa dilakukan ayah sehari-hari, sedangkan 4-5 mungkin sedikit dilupakan. Padahal kedua poin terakhir peniting bagi pendidikan seorang anak. Untuk melengkapi semua peran tersebut, peran Ayah saat PJJ di masa pandemi inilah yang saya sebut dengan pembelajaran Efektif Sinergi Ayah dan Anak (SA2).

SA2 merupakan model pembelajaran yang saya temukan di dalam keluarga-keluarga dari murid, guru, dan orang terdekat ketika pandemi. Saya melakukan penelitian sederhana tentang hal-hal yang berkaitan dengan interaksi Ayah dan anak saat pandemi dalam efektifitas proses pembelajaran. Hasilnya sungguh membuat saya kagum.

Dari berbagai responden dengan latar belakang yang berbeda, ditanyakan apakah selama anak-anak belajar dari rumah saat pandemi, Ayah membantu anak memahami pelajaran dari guru? Hampir semua responden menjawab “ya”. Kebanyakan responden menjelaskan bahwa Ayah sangat membantu terutama pada mata pelajaran eksakta seperti matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Selain itu, Ayah sangat intens menyemangati anak-anak agar disiplin meskipun sedang belajar dari rumah. Ayah juga berperan lebih saat mengajarkan nilai agama, termasuk etika dan moral anak-anak di rumah.

Jika Ayah membantu anak dalam memahami materi pelajaran, bagi saya itu biasa. Khusus untuk peran dalam mengajarkan nilai agama, termasuk etika, dan moral yang patut digarisbawahi. Disadari atau tidak, nampaknya itu merupakan peran Ayah dalam menumbuhkan nilai Pancasila dalam diri anak. Nilai Pancasila tersebut khusus sila pertama, yaitu tentang ketuhanan. Bukan hanya mengajarkan ritual, para Ayah yang menjadi responden lebih kepada mengamalkan nilai-nilai tersebut.

Untungnya responden saya adalah para Ayah yang berasal dari bermacam agama. Bagi Ayah yang beragama muslim, mereka mengatakan bahwa selama pandemi lebih sering melaksanakan sembahyang di rumah secara berjamaah. Hal tersebut bisa dijadikan medium bagi mereka untuk lebih berinteraksi dengan anak-anaknya. Sedangkan bagi para Ayah yang beragama lain, mereka juga mengatakan lebih khusuk beribadah dari rumah selama pandemi. Ayah menjadi pemimpin ibadah bagi keluarga, khususnya menjadi teladan bagi anak-anaknya.

Selesai ibadah, biasanya ada waktu khusus untuk diskusi. Saat itulah para Ayah biasanya menanamkan nilai etika dan moral. Nilai etika dan moral tersebut akhirnya bisa ditumbuhkan saat ada penggalangan dana saat pandemi untuk warga yang kurang mampu d sekitar rumah. Anak-anak dengan semangat menyisihkan uang tabungan untuk ikut menyumbang. Dengan demikian, bukan hanya nilai sila pertama saja yang sudah ada, melainkan juga nilai pada sila kedua, yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab.

Saat diminta menjelaskan lebih rinci bagaimana perilaku seorang Ayah saat membantu anak belajar selain yang sudah dijelaskan di atas, jawaban setiap responden bermacam-macam. Beberapa Ayah mengaku senang menjadi teman diskusi tantang hal-hal yang sedang berlangsung di lingkungan masyarakat. Termasuk isu-isu social yang sedang ramai dibahas. Para Ayah menyetakan bahwa pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari anak mereka sangat berderet dan rinci. Terkadang para Ayah kewalahan untuk menjawab beragam pertanyaan dari anak-anaknya. Dari berbagai pertanyaan, yang menarik adalah jika ada pertanyaan tentang berita politik.

Misalnya, ada pertanyaan tentang kenapa orang-orang dewasa selalu saling berbicara keras (beradu mulut) dalam suatu acara dan cenderung menghasilkan keributan? Pertanyaan ini sangat wajar jika aak-anak menonton televisi saat ada acara demikian. Dalam pandangan mereka, bisa jadi itu merupakan contoh hal yang tidak baik. Ayah bisa jadi mitra untuk mengambangkan daya kiritis anak-anak dengan memberi pandangan dan memancing pendapat anak-anak. Sambil itu, Ayah mengarahkan agar anak-anak bisa mengambil makna dan pelajaran. Pelajaran yang diambil bisa mengarahkan anak-anak agar saling akur sejak kecil. Efeknya mereka bisa merawat nilai-nilai persatuan.

Hal yang paling mengasyikkan datang dari pengakuan beberapa Ayah yang selama pandemi membimbing anak-anak juga dalam merumuskan tujuan belajar, merancang sebuah pembelajaran, dan membuat percobaan-percobaan sederhana. Para Ayah demikian ternyata lebih senang jika sekolah tidak hanya memberi tugas soal-soal yang harus dikerjakan, melainkan juga memberi tantangan cara belajar lain seperti pembelajaran proyek.

Di jenjang yang saya ajar misalnya, murid kelas V harus membuat sebuah proyek yang bersinergi dengan Ayah masing-masing. Pembelajaran ini diakukan sebagai saah satu bentuk integrasi beberapa mata pelajaran. Bahan belajar selama beberapa pertemuan diberikan, termasuk memberi pilihan tema bagi mereka untuk pembelajaran proyek. Saat diminta merumuskan tujuan belajar, para murid sambil dipandu guru berdiskusi dengan Ayah masing-masing mampu menghasilkan tujuan belajar yang berbeda. Tujuan belajar itu tergantung proyek yang akan mereka buat.

Setelah itu, ayah dan anak merancang pembelajaran proyek yang akan dilakukan dimulai dari mendata alat dan bahan yang diperlukan. Setelah itu, mereka berdiskusi menentukan langkah-langkah untuk menyelesaikan pembelajaran tersebut. Lalu, mereka memaparkan hasil dan pembahasan tentang proyek yang mereka kerjakan. Hingga akhirnya mereka memperoleh kesimpulan. Selama proses belajar itu berlangsung, tentu ada percobaan-percobaan yang gagal, kerepotan yang ditemui, komunikasi yang belum lancar, bahkan hal-hal yang dirasa sulit dilakukan lainnya. Akan tetapi dengan bantuan monitoring yang dilakukan oleh guru, akhirnya mereka bisa menyelesaikan setiap pembelajaran dengan hasil masing-masing. Dari serangkaian proses yang terjadi antara para Ayah dan anak dalam proyek pembelajaran tersebut, secara langsung bisa mengamalkan nilai-nilai musyawarah untuk mufakat. Ini ternyata sangat selaras dengan sila keempat.

Akhirnya, yang tak kalah penting adalah bagaimana para Ayah yang memiliki anak lebih dari satu, mampu membagi waktunya? Sampai di titik itu, para Ayah mengaku belum bisa adil. Hanya beberapa Ayah saja yang sudah bisa. Itu pun karena anak-anaknya sudah terbiasa diajak melakukan aktivitas bersama sejak kecil, sehingga saat belajar di masa pandemi hanya tinggal diarahkan saja. Ditambah lagi akan lebih mudah jika ada di antara anak-anaknya yang sudah berusia belasan. Pada usia belasan anak lebih mudah diajak bekerja sama.    

Semua yang dipaparkan itulah letak efektifitas pembelajaran yang dimaksud. Ayah dan anak bersinergi dalam belajar di rumah selama pandemi.. Waktu yang lebih luang di rumah membuat setiap proses pembelajaran tidak terbatas waktu formal. Ruang belajar murid juga menjadi lebih luas. Hasilnya tentu tidak hanya bisa menyelesaikan soal di atas kertas, melainkan efektifitas interaksi antara ayah dan anak saat pandemi dalam berbagai bentuk dan itu terjadi lebih intens. Bisa dibilang ini adalah AKB dalam dunia pendidikan dengan mengandung nilai-nilai Pancasila, di mana Ayah ikut berperan lebih dalam pendidikan anak.

Dari sudut pandang tersebut, pandemi menjadi bukan halangan melainkan tantangan yang harus dihadapi. Dengan E=SA2, semua pihak yang terlibat dalam pembelajaran diajak pada kesadaran tersebut sehingga mampu berperan sesuai kapasitas masing-masing.

Facebook!
Twitter!
LinkedIn_logo_BisnisUpdate.com
GooglePlus!
Whatsapp!

Visit Us (Cibubur)

Visit Us (Jakarta)